KEBUDAYAAN MALUKU

 

Berita Maluku – Tradisi-tradisi inilah merupakan pesona pariwisata Maluku yang akan paling disayangkan bila lupa menikmatinya bila sedang berlibur di tanah Raja-raja.

Makan Patita

Makan Patita adalmakanah tradisi yang rajin dilaksanakan dalam setahun. Makan Patita diadakan untuk merayakan hari-hari urgen seperti 17-an, HUT kota dll. Makan Patita ialah tradisi makan bareng sekelompok masyarakat dengan menyajikan menu makanan khas Maluku laksana ikan asar, kokohu, patatas rebus, singkong rebus dll. Setiap lokasi tinggal akan memasak menu khas Maluku dalam jumlah tidak sedikit kemudian, menu-menu tersebut akan diangkut ke tempat makan patita guna dimakan bersama-sama. Makan Patita biasanya bertempat ditempat terbuka laksana lapangan, jalan-jalan desa dan ada pun yang didalam gedung. Meja Patita ialah sebutan untuk lokasi meletakan makanan. Biasanya meja patita terdapat yang tercipta dari daun kelapa atau daun pisang yang diatur disepanjang jalan/lokasi sebagai alas, ada pun yang memakai meja kayu yang ditutupi daun pisang sebagi meja. Tradisi ini bertujuan untuk memperkenalkan menu khas Maluku pun meningkatkan kekerabatan dan kebersamaan dalam kehidupan masyrakat.

Pukul Sapu

Pukul Sapu adalasapuh tradisi berikutnya. Pukul Sapu adalahsebuah tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Mamala suatu desa yang sedang di pulau Ambon.Tradisi ini dilaksanakan setiap 7 Syawal atau sepekan sesudah hari raya Idul Fitri, tradisi ini dilaksanakan oleh semua lelaki. Mereka bertelanjang dada dengan memakai celana pendek dan ikat kepala. Sebelum mereka mengerjakan aktraksi pukul memukul mereka akan dikoleksi di lokasi tinggal adat untuk mengekor serangkaian acara adat dan meminta doa untuk leluhur supaya diberkati.

Pemain pukul sapu berjumlah 10 hingga 15 orang yang terbagi dalam 2 kumpulan dengan warna celana berbeda. Mereka memegang sapu lidi yang tercipta dari tulang daun pohon mayang (Pohon Enau) dengan panjang selama 1,5 meter dengan diameter pangkal lidi 1-3 cm. Mereka bakal mulai saling memukul hingga tubuh mereka luka-luka dan bengkak, tetapi para pemain pukul sapu menuliskan bahwa mereka tidak pernah merasa sakit pada tubuh mereka, mereka melulu mereasa nyaman dan geli saat setiap lidi dari sapu tersebut dipukulkan ke badan mereka.

Bambu Gila

Berikut ini ialah tradisi yang pubambunya kaitan dengan urusan mistis. Bambu Gila ialah tradisi Maluku yang erat dengan urusan mistis. Di pulau Ambon, peragaan Bambu Gila dapat ditemukan di desa Liang dan desa Mamala. Tradisi ini dibuka dengan menebang batang bambu, batang bambu yang dipakai tidak sembarang dipili,sang pawang mestilah mengerjakan serangkaian adat guna meminta izin penebangan batang bambu dihutan bambu. Bambu yang digunakan untuk tradisi ini ialah bambu dengan ruas ganjil, panjang bambu dapat mencapai 2,5 meter dengan diameter 8-10 cm. Setelah menemukan bambu, inilah yang mesti disediakan ialah kemenyaan, mantra dan para pria yang berjumlah aneh sebagai penahan bambu.

Hal yang terpenting dalam tradisi ini ialah semua kebutuhan harus berjumlah ganjil. Para pria penahan bambu seringkali bertubuh tegap atletis dengan tenaga yang kuat, urusan ini disebabkan mereka mesti dapat menahan bambu yang bakal meronta dengan paling ganas, mereka pun melulu memakai celana pendek merah atau hitam dengan ikat kepala tanpa mengenakan sehelai baju untuk memblokir dada namun, dengan beberapa dalil terkadang semua pemain bambu gila diwajibkan mengenakan baju memblokir dada. Setelah seluruh persiapan baik adat maupun tidak siap disediakan, maka atraksi bakal dimulai. Sang pawang akan menunjukkan roh yang terdapat didalam bambu seraya memegang wadah mengandung kemenyaan seraya membacakan mantra. Roh tersebut akan merontah dan menciptakan para penahan bambu terlempar kesana-kemari, tetapi para penahan mesti dapat menahan bambu hingga roh itu dapat ditenangkan oleh sang pawang.

Malam Badendang

Badendang dalam bahasa Ambon jogetberarti berdansa/bergoyang. Tradisi Malam Badendang adalahsarana guna berkumpul family dan membina kebersamaan dalam hidup bermasyarakat. Dalam acara ini semua peserta acara bakal menarikan tari-tarian wilayah seperti katerji dan orlapei. Acara yang dilangsungkan semalam suntuk ini juga disemarakkan dengan karoke dan makanan khas Maluku.

Selain dilakukan untuk acara kumpul keluarga, malam badendang juga diadakan untuk meramaikan acara laksana pernikahan,sidi,wisuda, dll. Acara ini dilangsungkan setelah jam 12 malam saat semua tamu undangan telah kembali dan yang tinggal melulu keluarga dan kerabat. Lagu-lagu yang dimainkan ialah lagu-lagu yang bersemangat dan yang slow. Tarian dalam acara laksana ini ialah tarian bebas layaknya sedang dugem di club malam.

Tradisi Timba Laor

Laor ialah sebutan untuk fauna laeraut serupa cacing yang hidup dikarang. Biasanya masyarakat bakal pergi ke pantai pada malam hari guna mengambil fauna ini. Hewan ini dimakan dengan mentah atau digoreng. Laor mentah hanya dibaur dengan cuka dan garam diperbanyak irisan bawang merah sementara laor yang digoreng pastinya digoreng laksana biasa. Namun tradisi ini tidak masing-masing tahunnya ada sebab laor tidak hadir setiap tahunnya.

Tradisi Cuci Negeri

Negeri ialah sebutan unhahatuk desa-desa di Maluku. Orang Maluku lebih kenal negeri daripada desa. Negeri-negeri ini dipimpin oleh seorang kepala desa yang dinamakan Bapa Raja. Tradisi cuci negeri sendiri ialah tradisi teratur yang dilaksanakan masyarakat pedesaan untuk mencuci lokasi-lokasi yang dipercayai menjadi lokasi mistis pada leluhur atau nenek moyang. Cuci negeri dilakukan setiap akhir tahun selama tanggal 27-29 Desember tiap tahunnya. Masyarakat satu desa bakal berkumpul didepan Baileo sebelum melaksanakan pekerjaan dengan membawa peralatan adat yang diperlukan, setelah tersebut masyarakat akan berduyun-duyun bergerak mengarah ke tempat-tempat laksana sumur dan lokasi bertapah nenek moyang dan membersihkan tempat itu. Setelah tersebut pada senja harinya, masyarakat bakal kembali ke depan Baileo guna makan bareng da menonton penampilan seni dan kebiasaan Maluku.

Pela Gandong

Pela Gandong ialah xoxotradisi yang telah melekat dalam diri tiap masyarakat Maluku dan tradisi ini masih bertahan sampai sekarang. Oleh sebab tradisi berikut Maluku dinamakan Negeri Pela Gandong. Pela Gandong sendiri terdapat tradisi yang bertolak belakang satu sama lain tetapi bertujuan sama yaitu guna kebersamaan dan kekeluargaan. Pela dilakukan untuk mengikat kekeluargaan antar dua desa pelbagai sama sementara Gandong guna yang bertolak belakang agama. Pela dan Gandong dilakukan untuk mengikat kekeluargaan dan hidup aman saling menghargai dan memuliakan sesama masyarakat Maluku.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *